Petani tembakau di Gunem menjemur hasil Tembakau sebelum disetorkan
Gunem-Harga tembakau yang tergolong
tinggi membuat puluhan petani desa Dowan kecamatan Gunem mencoba keberuntungan
dengan menanam tembakau. Tergiur oleh hasil panen yang bisa mencapai 10 kali
lipat dari biaya operasional yang dikeluarkan mendorong semangat petani untuk
beralih ke tanaman tersebut, meskipun proses penanaman hingga pengolahannya
tergolong ribet.
Rumaji misalnya, salah seorang petani yang mulai
menanam tembakau sejak bulan Mei lalu mengaku tertarik mencoba beralih menanam
tembakau karena ajakan salah satu teman taninya. Rumaji mengaku tertarik karena
berdasarkan pengakuan temannya keuntungan yang diperoleh dari bertani tembakau
jauh lebih besar daripada bertani jagung atau tanaman lain. Meskipun dalam
prosesnya jauh lebih sulit.
Ruimaji mengatakan, dalam bertani tembakau waktu yang
dibutuhkan dari masa tanam hingga masa penen berkisar kurang lebih 3 bulan.
Dalam jangka waktu tersebut berbagai upaya perawatan perlu dilakukan seperti
pemupukan, penyiraman, hingga pembasmian hama apabila dibutuhkan. Setelah
dipanen, daun tembakau kemudian diolah dan dijemur hingga mengering (±3 hari).
Setelah itu jadilah tembakau yang sudah digulung kemudian siap disetorkan.
Menurut informasi yang didapat oleh Rumaji, daun yang
dihasilkan tiap pohon tembakau mencapai 7 ons apabila kualitas tanam bagus.
Sedangkan untuk lahan ½ ha bisa ditanami 16 ribu pohon, seperti yang dilakukan
Rumaji saat ini.
Sementara harga jual tembakau 1 bal (40 kg) bisa
mencapai 3.200.000 hingga 3.500.000 rupiah. Jika diakumulasikan, dari ½ ha
lahan mampu menghasilkan rupiah hingga ratusan juta. Dengan biaya operasional
10-15 juta.
Rumaji sendiri yang masih mencoba menanam tembakau
untuk yang pertama kali berniat membandingkan keuntungan yang diperoleh
dibanding dengan bertanam jagung ataupun tanaman lain. Ia menegaskan, jika
keuntungan memang lebih menjanjikan maka ia akan terus menanam tembakau.(ita )
Sumber : Radio Citra Bahari Fm

Post a Comment