Headlines News :
Showing posts with label PERTANIAN. Show all posts
Showing posts with label PERTANIAN. Show all posts

Kembangkan kerajinan Tas bahan limbah bungkus Kopi

Kerajinan tas dan sabuk dari limbah bungkus kopi saat dipamerkan

Rembang- Berawal dari limbah bungkus kopi yang berserakan diwarung-warung kopi mendorong warga belajar desa Vokasi Sendang mulyo kecamatan Sluke menuangkan ide untuk memanfaatkan bungkus kopi tersebut  dikelola, sehingga menghasilkan kerajinan tas bahan limbah dari bungkus kopi.
            Ketua PKBM Budi Utomo, Sendang Mulyo Kecamatan Sluke Muhammad Sutrisno mengatakan Kerajinan tas dari bahan bungkus kopi ini dibuat oleh 20 warga belajar PKBM Budi Utomo Sendang Mulyo Kecamatan Sluke. 
            Bbahan baku  mengambil dari sekitar warung kopi di dekat PKBM, bila masih belum tercukupi bisa bekerja sama dengan warung kopi yang lain sehingga tidak kesulitan untuk mencarai bahan baku nya. Untuk tahap pemasaran awal baru diperkenalkan dalam ivent-ivent pameran di kabupaten Rembang saja ternyata banyak pengunjung yang tertarik.
            Sutrisno menambahkan, hasil kerajinan limbah bungkus kopi juga dibuat  sabuk dan sudah dipasarkan dikota kudus dengan pengiriman interval 2 minggu 1000 sabuk dengan harga 150 ribu, kerajinan ini dibuat oleh 5 kelompok dan setiap kelompok menghasilkan 250 hingga 300 sabuk.
            Sementara warga Belajar dari dukuh jambu desasendang mulyo Maslikhtun mengatakan, untuk membuat tas dari bahan bungkus kopi setiap tas membutuhkan 20-30 bungkus kopi yang masih baru, Pihaknya  sudah memproduksi tas hampir 100 lebih, dengan harga 1 tas  mencapai 100 sampai -120 ribu rupiah.( Yudha ) 
 
 
Sumber : CBFM

Tehnologi Mesin Perontok Padi mulai diterapkan petani


Combine harvister


Pamotan-Tehnologi pertanian kini semakin maju, sudah 2 tahun terakhir ini para petani di wilayah Rembang  menggunakan tehnologi pertanian mesin perontok padi modern. Salah satunya sudah di terapkan di desa Japerejo kecamatan pamotan.
Ketua Gapoktan Manunggal desa Jape Rejo Saeroji mengatakan, mesin perontok padi modern atau yang lebih di kenal di kalangan petani harvister tersebut merupakan satu satunya yang ada di Rembang.
Mesin ini  merupakan bantuan dari dinas pertanian Kabupaten Rembang pada tahun 2011 yang lalu, dan telah di peruntukkan bagi Gapoktan manunggal desa Jape rejo Kecamatan Pamotan. 
Sejauh ini  sudah di pergunakan untuk melayani para petani yang ada di 14 Kecamatan dengan sistim sewa. petani  hanya membayar 300 ribu rupiah per 1 tonnya,
 Untuk mengoperasionalkan mesin ini hanya membutuhkan 2 tenaga kerja dengan membutuhkan waktu sekitar  3 jam setiap satu hektardan  tanaman padi bisa selesai di panen, lebih murah dari pada menggunakan mesin perontok padi biasa yang membutuhkan tenaga 5 sampai dengan 6 orang, Dengan mengunakan Harvister satu hari bisa menyelesaikan 4 hektar lahan padi, sehinga lebih efisien dari segi biaya maupun tenaga. 
         Saeroji menambahkan banyak keuntungan yang bisa di ambil bila petani mengunakan Crown Combine Harvister, hasil  panen bisa langsung di jemur tidak perlu di bersihkan lagi,  karena dalam mesin perontok padi modern atau harvister sudah ada sistim untuk pembuangan berbagai kotoran seperti jerami, bulir padi yang kosong serta kotoran lain karena sudah ada blower tempat pembuangan berbagai kotoran, petani tinggal menjemur hasil panen dengan kwalitas baik. (  Heri )  
 
 
Sumber:CBFM

Demonstrasi Dembul Padi Hibrida

Petugas menimbang hasil ubinan


Pamotan- Kelompok tani Bahagia 1 desa Sidorejo kecamatan Pamotan kemarin mengadakan pertemuan  Farmers Field Day (FFD) demonstrasi bibit unggul padi hibrida. (6/8) FFD yang diselenggarakan oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) wilayah Pati ini sudah dalam tahap pengambilan sempel hasil panen secara ubinan, guna mengetahui kisaran hasil panen per hektar padi hibrida di lahan uji coba yang ditanam beberapa bulan lalu.
Jenis padi hibrida yang didemonstrasikan kali ini adalah jenis Hipa 5 Ceva, Hipa 8 Pioneer, Hipa 9, Hipa 14 SBU, dan Mapan P 05. Dari kelima varian tersebut diambil sampel hasil panen secara ubinan dan ditimbang, kemudian diakumulasi hingga didapat kisaran hasil panen tiap hektar bisa mencapai berapa ton.
Jaka Srisantasa, pengawas benih tanaman BPSB Pati mengatakan, tujuan FFD Dembul (Demonstrasi Bibit Unggul) padi hibrida ini adalah untuk mengenalkan varitas padi hibrida kepada petani, kemudian memacu petani agar mau menanam padi hibrida untuk mendukung produksi beras nasional. Hal ini tentu tak lepas dari hasil yang dihitung nanti, apakah padi hibrida bisa secara signifikan dapat meningkatkan hasil panen petani. 
Pihaknya menambahkan, hasil panen padi hibrida pun tak lepas dari beberapa faktor yang mempengaruhinya seperti keadaan tanah, iklim, cuaca, perawatan, dan kemungkinan adanya serangan hama. Sehingga hasil akumulasi nanti tidak bisa dipatok secara murni, namun juga perlu dipertimbangkan beberapa faktor tersebut kemudian bisa diambil langkah berikutnya hingga mencapai hasil panen mendekati potensi padi hibrida.
Sementara hasil akumulasi yang didapat jenis padi Hipa 14 SBU yang menduduki peringkat tertinggi yaitu mencapai 8,16 ton/ha dengan potensi 11,8 ton/ha. Kemudian disusul Mapan P05  7,76 ton/ha dengan potensi 9,52 ton/ha. Sedangkan untuk jenis padi Hipa 5 Ceva 5,92 ton/ha potensi 8,40 ton/ha, Hipa 8 Pioneer 4,8 ton/ha potensi 10,40 ton/ha, dan Hipa 9 5,04 ton/ha potensi 10,40 ton/ha. Perhitungan dalam GKP (Gabah Kering Panen) untuk teknik penanam Jarwo 61.
Setelah mengetahui hasil akumulasi kisaran hasil panen tiap varian nanti, diharapkan petani dapat menentukan pilihannya. Varian padi hibrida manakah yang hendak mereka tanam, tentu dengan pertimbangan hasil panen terbaik yang cocok dengan kondisi alam Pamotan dan yang sesuai dengan keinginan mereka.
Terpisah, Nur Rifa’i salah satu petani sekaligus pelaksana operasional dembul mengaku padi hibrida ini memang mempunyai keunggulan dengan padi yang lain. Pihaknya mengaku tertarik untuk mencoba mendalami jenis padi ini. 
Dalam FFD kali ini pihak penyelenggara mendatangkan BPSB Jateng, Dintanhut Rembang, jajaran petugas pertanian kecamatan Pamotan, ketua poktan sekitar lokasi dembul, petani setempat, dan Badan Ketahanan Pangan kabupaten Rembang. Diharapkan kegiatan ini akan ada tindak lanjutnya sehingga petani dapat memproduksi padi lebih baik hingga ketersediaan pangan nasional pun terkatrol.(ita )


Sumber: CB FM

Lahan tebu dilalap dijago merah

Petugas berupaya memadamkan api di lokasi lahan tebu


Sulang-Lahan Tebu dipinggir jalur Rembang-Blora tepatnya di desa Kaliombo kecamatan sulang terbakar pagi tadi (07/8) .Lahan tebu milik Maryono dari desa Karangharjo seluas 5 hektar setengahnya lebih ludes dilalap sijago merah. 
            Kebakaran terjadi sekitar pukul 10.00 Wib dan warga setempat bersama Petugas Kepolisian berupaya memadamkan api dengan alat seadanya agar api tidak menjalar kerumah penduduk setempat, baru sekitar 15 menit kemudian pemadam kebakaran baru tiba di lokasi kebakaran.
            Pemilik lahan tebu Maryono mengatakan akibat musibah ini 5 hektar lahan tebu miliknya, sekitar 2 hektar berhasil diselamatkan, sedangkan 3 hektarnya terbakar. kerugian ditaksir mencapai sekitar 20 juta rupiah sebab rendemen tebu atau kadar kandungan gula didalam batang tebu merosot sampai 10 persen. 
Tebu yang sudah terbakar rasanya pahit disamping itu juga kadar gula yang terdapat didalam tebu sudah keluar, tetapi yang terpenting pabrik sudah dihubungi  jangan sampai panen melebihi 3 hari   dan langsung dikirim ke pati dan kudus.
Apabila  pabrik dari pati dan kudus mengeluarkan Surat perintah angkut ( SPA ) nya terbatas, alternatifnya beralih ke gula merah dengan meminta bantuan dari produsen gula merah, karena tebu ini belum masa tebang baru masa akhir, karena rencananya mulai tebang bulan september.
Sementara itu M Rokhim Kabid kebersihan dan drainase DPU Rembang  mengatakan, Penyebab kebakaran belum diketahui, indikasinya disebabkan oleh puntung rokok yang dibuang sembarangan.
Sebelumnya kejadian seperti ini sudah sering terjadi penyebabnya rata-rata karena ketidak sengajaan dan dimungkinkan ada unsur kesengajaan, sehingga itu sangat sulit untuk mengetahui pelaku dan motif.
Pihaknya menghimbau kepada masyarakat pada saat kemarau dan angin yang kencang seperti ini untuk tetap waspada terutama jangan membuang puntung rokok sembarangan, karena berdampak sangat besar, terutama dilahan tebu yang banyak daun kering yang mudah terbakar.( Yudha ) 
 
 
Sumber: CB FM 

Petani Mulai Tertarik ke Tanaman Tembakau

Petani tembakau di Gunem menjemur hasil Tembakau sebelum disetorkan  


Gunem-Harga tembakau yang tergolong tinggi membuat puluhan petani desa Dowan kecamatan Gunem mencoba keberuntungan dengan menanam tembakau. Tergiur oleh hasil panen yang bisa mencapai 10 kali lipat dari biaya operasional yang dikeluarkan mendorong semangat petani untuk beralih ke tanaman tersebut, meskipun proses penanaman hingga pengolahannya tergolong ribet.
Rumaji misalnya, salah seorang petani yang mulai menanam tembakau sejak bulan Mei lalu mengaku tertarik mencoba beralih menanam tembakau karena ajakan salah satu teman taninya. Rumaji mengaku tertarik karena berdasarkan pengakuan temannya keuntungan yang diperoleh dari bertani tembakau jauh lebih besar daripada bertani jagung atau tanaman lain. Meskipun dalam prosesnya jauh lebih sulit. 
Ruimaji mengatakan, dalam bertani tembakau waktu yang dibutuhkan dari masa tanam hingga masa penen berkisar kurang lebih 3 bulan. Dalam jangka waktu tersebut berbagai upaya perawatan perlu dilakukan seperti pemupukan, penyiraman, hingga pembasmian hama apabila dibutuhkan. Setelah dipanen, daun tembakau kemudian diolah dan dijemur hingga mengering (±3 hari). Setelah itu jadilah tembakau yang sudah digulung kemudian siap disetorkan. 
Menurut informasi yang didapat oleh Rumaji, daun yang dihasilkan tiap pohon tembakau mencapai 7 ons apabila kualitas tanam bagus. Sedangkan untuk lahan ½ ha bisa ditanami 16 ribu pohon, seperti yang dilakukan Rumaji saat ini. 
Sementara harga jual tembakau 1 bal (40 kg) bisa mencapai 3.200.000 hingga 3.500.000 rupiah. Jika diakumulasikan, dari ½ ha lahan mampu menghasilkan rupiah hingga ratusan juta. Dengan biaya operasional 10-15 juta.
Rumaji sendiri yang masih mencoba menanam tembakau untuk yang pertama kali berniat membandingkan keuntungan yang diperoleh dibanding dengan bertanam jagung ataupun tanaman lain. Ia menegaskan, jika keuntungan memang lebih menjanjikan maka ia akan terus menanam tembakau.(ita )




Sumber : Radio Citra Bahari Fm

Waspadai Hama penggerek tanaman

Lahan Palawija perlu dibuatkan parit antar bedengan untuk menghindari genangan air 


Rembang-Petani yang sedang menanam palawija maupun tembakau diminta untuk tetap mewaspadai adanya hama tanaman khususnya ulat penggerek tanaman. Pasalnya saat musim kemarau dengan masih adanya intensitas hujan menyebabkan cuaca lembab  mendorong timbulnya hama penyakit . Hal tersebut disampaikan kepala Dinas Pertanian dan kehutanan Rembang Suratmin.
Suratmin mengatakan, cuaca lembab biasanya mendorong telur-telur hama ulat penggerek tanaman  menetas, baik di tanaman palawija maupun tembakau. Khusus tanaman tembakaupengendaliannya sebaiknya dengan cara manual saja. 
Sebaliknya sebut Suratmin  untuk menghindari banyaknya genangan air petani palawija maupun tembakau dianjurkan   membuat got ataupun parit antar bedengan, Bedengan   harus diperdalam karena jika ada hujan  bisa tuntas mengalir dan tidak menggenang. Apabila dibiarkan tanaman palawija maupun tembakau bisa layu dan menyebabkan mati. 
Data Dinas pertanian dan kehutanan Rembang  jumlah areal tanaman palawija  khususnya kedelai mencapai 8000 hektar, Jagung sekitar 20 ribu Hektar dan tanaman tembakau mencapai 2500 hektar. Khusus tembakau rata-rata petani sekarang ini sudah panen. (affandi )
 


Sumber : Radio Citra Bahari Fm

Petani tambak garam masih terkendala hujan

Petani Garam diKaliori mulai panen 


Kaliori-Hujan yang masih mengguyur wilayah kabupaten Rembang, sejak akhir Juli lalu, di satu sisi menguntungkan petani sawah karena tanaman palawijanya tercukupi air. Namun di sisi lain, dengan turunnya hujan sangat meresahkan petani tambak garam yang saat ini mulai panen.
            Petani penggarap tambak garam desa Dresi Kulon, kecamatan Kaliori- Darmo mengatakan sejak adanya turun hujan menjadi kendala bagi petani tambak garam. Pasalnya ketika air garam yang siap menjadi kristal garam terguyur hujan otomatis akan mencair dan  pekerjaan justru dimulai dari nol lagi. 
            Darmo menambahkan akibat cuaca yang tidak menentu ini, petani garam yang biasanya bisa menggarap tambaknya pada bulan Mei, pada tahun ini justru dimulai pada bulan Juli, dan  saat ini baru panen pertama.
            Hal senada juga disampaikan petani garam Desa Mojowarno, kecamatan Kaliori- Giman, Ia  mengungkapkan dengan adanya cuaca yang tidak menentu hasil panenan petani garam menjadi berkurang. Pasalnya jika panas terik matahari normal petani garam dalam 1 hektarnya bisa panen 8 ton per minggunya. Namun karena  cuaca tidak menentu hasilnya berkurang.
Giman menjelaskan walaupun saat ini cuaca tidak menentu diprediksi petani garam bisa membuat tambak garam hingga bulan Nopember nanti. Sedangkan bulan rame-ramenya panen garam diperkirakan pada bulan Agustus dan September mendatang.
Di panen pertama ini harga garam di pasaran saat ini berkisar antara 500 rupiah per kilogram hingga 650 rupiah per kilogram.( Masudi )
Sumber : Radio Citra Bahari Fm