Angka tersebut dihitung dari jumlah pengunjung yang perkiraan masuk
ke obyek wisata sebanyak 35 ribu orang. Jika dirata rata setiap orang
membelanjakan uangnya Rp 100 ribu, maka siklus uang mencapai Rp 3,5
miliar. Belum lagi tiket masuk ke obyek wisata, parkir, ikut lomban
maupun pengunjung lain yang hanya memilih sekedar jalan jalan di luar
Taman Kartini.
Beda lagi dengan Marzuki, pengunjung syawalan asal desa Dadapan Kec.
Sedan. Kebetulan ia beberapa kali ditraktir oleh saudaranya. Meski
demikian dari kantong pribadi, merogoh kocek hampir Rp 200 ribu.
Senin pagi, Pelaksana Tugas Bupati Rembang, Abdul Hafidz resmi
membuka tradisi syawalan di halaman obyek wisata DAB Taman Kartini. Ia
berharap pengelola melakukan sejumlah inovasi, supaya pengunjung tidak
merasa bosan dan meningkatkan perekonomian. Pemkab kedepan ingin
menyatukan Taman Kartini dengan wisata religi Bonang Binangun, yang akan
mulai dipaparkan investor bulan September mendatang.
Manajer obyek wisata Dampo Awang Beach Taman Kartini, Murwadi
membenarkan potensi syawalan menjadi salah satu ajang perputaran uang
terbesar di kabupaten Rembang.
Bagi pengelola obyek wisata, yang dihitung berdasarkan hasil
penjualan tiket. Sedangkan berkah lain dirasakan oleh pedagang, penyedia
jasa perahu hingga tukang parkir. Hanya saja Murwadi agak menyayangkan
mayoritas pedagang Syawalan, justru berasal dari luar kabupaten Rembang.
Post a Comment